Header Ads

Breaking News
recent

#AlumniTimurTengah Lagi Naik Daun karena Banyak Masuk #Bursa Capres/Cawapres #Pilpres2019

Alumni Timur Tengah yang tergabung dalam Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) tengah naik daun di Indonesia karena peran lulusan yang memberikan kontribusi positif.

Di antara alumni ada yang masuk dalam bursa calon presiden atau wakil presiden, baik melalui lembaga survei maupun diusulkan partai, organisasi maupaun publik,  seperti Tuan Guru Bajang (TGB) dll. (Baca: Kebangkitan Alumni Al Azhar)

Anggota IKAT saat ini berkecimpung di berbagai bidang. Selain pembangunan dalam negeri, asosiasi alumni juga dapat turut berkontribusi dalam meningkatkan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara Timteng.

Apalagi, ada juga perkumpulan alumni per negara seperti Himpunan Alumni Yordania (HAPMI), Ikatan Alumni Syam Indonesia (Al Syami) dll.

Artikel berikut menjelaskan lebih lanjut hubungan ekonomi kedua belah pihak: (baca sumber)

Potensi dan peluang ekonomi yang besar sejumlah negara di Timur Tengah tampaknya membuat sejumlah pebisnis Indonesia tertarik untuk menjajaki peluang usaha di kawasan itu.

Hubungan diplomatik yang relatif baik antara Indonesia dan sejumlah negara di Timur Tengah dan banyak warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di kawasan itu menyebabkan peluang bisnis yang selama ini belum terlalu dioptimalkan mulai digarap serius.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi terbesar di Indonesia, PT Kimia Farma (Persero) Tbk contohnya, memperluas bisnis ke Timur Tengah dengan mengakuisisi 60 persen saham Dawaa Medical Limited Company (Dawaa), anak perusahaan Marei Bin Mahfouz (MBM) Group yang berbasis di Arab Saudi.

Penyertaan modal Kimia Farma di Dawa mencapai 38 juta real Arab Saudi atau setara sekitar Rp133 miliar, yang digunakan untuk pengembangan bisnis perusahaan.

Penandatangan perjanjian pemegang saham ditandai dengan pembentukan perusahaan patungan (JV) Kimia Farma Dawaa antara Dirut Kimia Farma Honesty Basyir dan CEO MBM Mahfouz Bin Marei Bin Mahfouz, di Jakarta Senin (5/3).

Aksi korporasi ini sekaligus menandai mulai beroperasinya Kimia Farma Dawaa yang secara efektif pada Maret 2018. Ekspansi bisnis Kimia Farma ke luar negeri, khususnya di Arab Saudi dan Middle East and North Africa (MENA) sebagai strategi pengembangan bisnis dan pasar dalam meningkatkan benefit bagi para pemangku kepentingan.

Sebagai BUMN Farmasi, Kimia Farma tidak hanya hadir untuk masyarakat di negeri sendiri, tetapi juga di luar negeri.

Ekspansi bisnis ini sekaligus untuk mendukung program pemerintah Indonesia dalam melayani kebutuhan pelayanan kesehatan jamaah haji dan umrah Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, serta melayani WNI yang bekerja di Arab Saudi.

Untuk menjalankan kegiatan perdagangan farmasi, kosmetik, alat medis dan pengelolaan apotek (ritel), Dawaa saat ini meiliki jaringan apotek sebanyak 31 gerai, yang terdiri atas 10 gerai di Mekkah dan 21 gerai di Jeddah.

Disamping itu, terdapat dua pusat distribusi di Mekkah dan Jeddah, tapi setelah pembentukan Kimia Farma Dawaa diharakan dalam waktu dekat jumlah gerai akan ditambah sebanyak 90 gerai.

Kimia Farma memilih Arab Saudi sebagai pintu masuk penetrasi pasar ke wilayah Timur Tengah, karena prospek bisnis kesehatan di Arab Saudi cukup menjanjikan dengan estimasi nilai pasar farmasi sebesar 20 miliar dolar AS pada tahun 2020.

CEO MBM Marei Bin Mahfouz mengatakan Kimia Farma Dawaa tahap awal akan fokus ke distribusi dan ritel apotik termasuk membuka gerai di dekat Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta mendukung layanan kesehatan bagi jamaah haji dan umrah.

Kerja sama ini diharapkan berdampak pada industri kesehatan di Arab Saudi, dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat Arab Saudi.

Dalam jangka panjang, Kimia Farma Dawaa juga terbuka untuk membangun pabrik farmasi di Arab Saudi.

Selain untuk mamasok produk-produk farmasi ke pasar Timur Tengah, produksi dari pabrik farmasi Kimia Farma Dawaa juga nantinya diekspor ke negara-negara di kawasan Afrika,” tuturnya.

Dengan Qatar
Bukan saja dengan Arab Saudi, sejumlah pebisnis Indonesia juga melirik Qatar sebagai tujuan usahanya mengingat negara tersebut diam-diam juga memiliki potensi untuk kerjasama saling menguntungkan.

Pelaku usaha Indonesia memasok bahan bangunan atau building materials guna memenuhi permintaan pasar Qatar akibat blokade ekonomi yang dilakukan negara-negara tetangganya.

Hal itu disampaikan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Qatar Dedi Saiful Hadi ketika usai mengadakan pertemuan usaha dengan Wakil Ketua Kadin Qatar, Mohamed bin Towar al-Kuwari, AlJaber Engineering, Pejabat Al Faisal Holding, Qatar Business Association (QBA), demikian Minister Counselor KBRI Doha, Boy Dharmawan, di London, Selasa (6/3).

Pertemuan tersebut merupakan tindaklanjut kerja sama setelah Indonesia dan Qatar menandatangani lima nota kesepahaman saat Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani berkunjung ke Indonesia Oktober tahun lalu.

Qatar tengah memulai berbagai proyek konstruksi mempersiapkan diri guna menghadapi kejuaraan Piala Dunia 2022, sehingga kebutuhan bahan bangunan sangat besar.

“Kami ingin memanfaatkan peluang pasar ini. Memasok kebutuhan bahan bangunan dari Indonesia ke Qatar akan lebih mudah jika jalur pelayaran langsung antarkedua negara sudah aktif,” ujar Deddy.

Indonesia berupaya untuk memaksimalkan peluang usaha setelah Qatar diblokade, untuk itu telah dilakukan pertemuan dengan pejabat Qatar Chamber dan AlJaber Engineering untuk membahas peluang bisnis di kedua negara. Perundingan membuahkan hasil dan pelaku usaha kedua negara diharapkan bekerja sama dalam sektor real estat dan konstruksi

Delegasi itu juga memaksimalkan peluang sektor pangan, mengingat Indonesia kaya produk makanan dan Qatar ingin memastikan persediaan kebutuhan pokoknya memadai. Dalam situasi seperti ini, kedua negara dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan ini.

Selain itu, kerja sama yang sedang diupayakan adalah sektor kesehatan mengingat Indonesia unggul dalam sektor tersebut. Delegasi melakukan pertemuan dengan pejabat Hamad Medical Corporation dan Sidra Hospital untuk merealisasikan upaya kerja sama.

Indonesia juga menawarkan peluang investasi sektor pariwisata, real estat, pertambangan, ketahanan pangan dan sektor lainnya.

Dubes RI untuk Qatar Muhammad Basri Sidehabi menyampaikan apresiasinya dengan keberhasilan kunjungan delegasi yang dipimpin Deddy guna meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Ia juga menyampaikan apresiasinya atas kontribusinya meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara.

Pengusaha Indonesia perlu jeli memanfatkan momentum terbukanya peluang pasar di Qatar akibat krisis. Sebelum Qatar diblokade oleh negara tetangga dengan menutup jalur darat, laut dan udaranya, pasokan kebutuhan Qatar melalui negara tersebut khususnya makanan dan obat-obatan mencapai 90 persen.

Tentunya diharapkan dengan jelinya pengusaha Indonesia memanfaatkan peluang bisnis di negara-negara Timur Tengah, potensi meraup devisa nonmigas bisa tercapai yang pada akhirnya memajukan perekonomian nasional.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.